Pages

Sabtu, 04 Februari 2017

Contoh Biografi Diri Sendiri


Larasimantika Elviatur Rukaikah Sang
Pejuang Mimpi Tanpa Lelah

Larasimantika Elviatur Rukaikah lahir di Pati, Jawa Tengah,16 April 1999 dengan nama kecil Ayas. Sebagai salah satu siswa SMAN 1 Pati, ia telah melakukan berbagai perjuangan dalam meraih  impiannya untuk ikut serta menyumbangkan penghargaan dan trophy kemenangan untuk sekolah tercintanya yaitu SMAN 1 Pati. Laras adalah gadis yang penuh semangat dan kesabaran dalam menghadapi segala hal, termasuk jatuh bangun dalam menghadapi sengitnya perlombaan yang ia ikuti. Ia selalu melakukan introspeksi terhadap kesalahan yang ia lakukan dan mencoba menerapkan inovasi terhadap teori atau pembelajaran untuk diterapkan dan ditunjukan dengan gayanya sendiri. Hal ini dilakukannya saat berbicara dan mempresentasikan suatu materi dalam semua lomba yang pernah diikutinya, seperti halnya dalam perlombaan Da’i Remaja dan Karya Ilmiah Remaja.
Ia mengikuti lombanya yang pertama yaitu Lomba Da’i Remajapada tanggal 10 Maret 2014, tepatnya saat ia duduk di kelas 10. Di awal perjuangan, Laras benar-benar dihadapkan dengan berbagai hambatan yang cukup berat, yaitu ia harus menyingkirkan 18 pesaing dalam sekolahnya sendiri, karena sekolah hanya akan memberikan 5 dari 18 kursi kepercayaan untuk mewakili SMAN 1 Pati dalam perlombaan tersebut.  Laras berusaha mengerjakan, membuat, dan berlatih sekuat tenaga pada materi yang akan disampaikan. Lelah, bingung, dan frustasi adalah hal-hal yang sering menghantuinya saat itu. Disamping fokus berlatih, ia harus membagi waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas yang menumpuk, disisi lain ia juga harus ikut memikirkan ibunya yang sedang sakit saat itu. Saat seleksi sekolah dimulai, rasa gerogi, malu, dan minder tidak pernah lepas dari hatinya saat itu, karena untuk pertama kalinya ia berpidato dan berbicara menggunakan mic setelah sekian lama tak pernah mencobanya sejak kelas 6 SD saat lomba sinopsisnya yang terakhir. Tidak berhenti disitu saja, akibat rasa gerogi yang cukup besar, ditengah penyampaian materi Ia sempat melupakan ayat dan dasar hukum materinya, hingga salah satu temannya harus membisikan materi tersebut. Sedih dan menyesal adalah hal yang benar-benar ia rasakan usai penampilannya saat itu di depan guru agama yang menyeleksinya. Namun Tuhan berkehendak lain, saat di akhir acara, Bapak Barokah selaku juri menyebutkan namanya di posisi terakhir dari 5 calon peserta yang akan dilombakan,sungguh benar-benar keajaiban baginya. Sejak saat itu ia membuat komitmen bahwa ia harus masuk 3 besar nantinya dalam perlombaan, dan sejak saat itu juga ia membuat jadwal bahwa tidak ada hari dan waktu tanpa berlatih dan mencoba menghilangkan rasa geroginya.
Usaha dan perjuangannya dalam lomba Da’i tingkat kabupaten itu akhirnya terhenti tanggal 10 Maret 2014, tepatnya pukul 17.00 WIB. Dari 40 peserta, ia harus menunggu selama 8 jam untuk tampil. Perlombaan yang dimulai pukul 08.00 pagi dari nomor urut 1, sampai tiba gilirannya pukul 16.15 sore dengan nomor urut 32. Walaupun sudah berjuang mati-matian, berdoa kepada Tuhan, serta ikut mengorbankan ulangan dan pelajarannya di sekolah, kehendak Tuhan berkata lain, Laras kalah dalam perlombaan. Bahakan namanya saja tidak masuk dalam 10 besar peserta yang masuk ke final. Patah hati, kecewa, dan sedih karena kalah adalah moment terpahit yang ia rasakan saat itu. Ia merasa malu karena ia tidak dapat menghadiahkan tropy kemenangan pada guru pembimbingnya dan sekolah tercintanya, SMAN 1 Pati.
Pada tanggal 12 Juni 2014, Laras diberi kepercayaan kembali oleh SMAN 1 Pati untuk kembali mengikuti lomba Da’i antar sekolah di Kabupaten Pati. Bersama temannya kategori laki-laki yaitu Satria, mereka berlatih langsung dibawah bimbingan Bapak Barokah. Namun, pada saat itu, ada hal berbeda yang dirasakan Laras yaitu pada kesiapan mental dan materi. Setelah berjuang menguras otak selama seminggu penuh menghadapi Ulangan Tengah Semester 1, tiba-tiba tanpa pemberitahuan jauh sebelumnya, ia dituntunt harus maju ke perlombaan 2 hari setelah itu. Cemas dan bingung selalu menghantuinya, ia benar-benar tidak siap untuk menghadapi perlombaan bahkan Ia juga takut jika akan mengecewakan sekolahnya untuk kedua kalinya dalam perlombaan tersebut.
" Toleransi Antar Umat Beragama" adalah judul dari materi yang akan ia sampaikan dalam perlombaan. Judul ini didapatkan seketika saat ia melihat bagaimana tinglah laku antar tetangganya yang sangat fanatik terhadap suatu agama, sehingga selalu memandang rendah agama atau paham yang berbeda dengannya. Padahal di sekolah sendiri Laras, memiliki sahabat baik yang sangat dekat saat itu, dan sahabatnya itu memiliki keimanan berbeda dengan Laras, dari situlah muncul gagasan dan prinsip bahwa ia harus menyampaikan materi toleransi antar umat, karena ia beranggapan bahwa semua manusia adalah sama dan sesama manusia tidak berhak mengadili satu sama lain, apalagi berkaitan dengan keimanan dan kepercayaan kepada Tuhan karena hal itu adalah kebebasan yang harus dimiliki setiap manusia.
Benar  jelas dugaan Laras, bahwa ia kembali akan dipermalukan di depan umum, serta menanggung malu akibat kekalahan yang diperolehnya. Akibat tidak memiliki kesiapan materi yang matang, pada tanggal 12 Juni 2014 tersebut, ia mengalami hal yang sama saat seleksi sekolah dulu. Ia melupakan hal terpenting dari materi, yaitu ayat dan dasar hukum judul yang ia bawakan, " Toleransi Antar Umat Beragama". Juri dan penonton hening yang antusias awalnya, berubah menjadi keramaian yang mengabaikan. Tertawa, tersenyum karena memandang rendah juga ditunjukan oleh para juri. Sungguh saat itu adalah moment yang lebih pahit dari kekalahan yang sebelumnya. Sakit hati akibat malu, bukan satu-satunya hal yang membuat sedih Laras pasca perlombaan. Betapa kuatnya ia harus menahan air mata saat upacara bendera hari Senin di sekolah, nama ketiga anak pemenang lomba debat agama islam mendapat juara 1 dan maju tingkat provinsi, tidak lupa dibelakangnya mengikuti nama Satria sebagai pemenang juara 3 tingkat kabupaten lomba Da’i laki-laki, jelas keras diumumkan dalam speaker dan disambut tepuk tangan meriah para peserta upacara, padahal 4 anak itulah adalah teman seperjuangan berlatih bersama Laras dan hanya Laras sajalah sendiri yang pulang dengan tangan kosong.
Setelah dua kali berturut-turut kalah dalam perlombaan, Laras berusaha tegar dan tak mau mengingatnya. Sejak kekalahannya di kelas 10, ia berkomitmen bahwa jika ia tidak pernah bisa memenangkan perlombaan, ia harus bisa menyumbangkan prestasi saat ujian nasional dan SNMPTN nanti. Sejak saat itu, ia berusaha belajar dan memperbaiki kesalahan di kelas 10 untuk menjadi lebih baik di kelas 11. Setelah berhasil bangkit dan kembali dalam kesedihan, laras yang duduk di kelas 11 fokus pada pembelajaran. Namun kehendak Tuhan berkata lain, tanpa terduga Laras diminta seorang guru yang benama Ibu Ida untuk mempresentasikan suatu materi dalam lomba Karya Ilmiah Remaja tingkat Kabupaten. Tidak seperti sebelumnya, saat itu Laras sangat bersemangat dan lebih percaya diri dari lomba-lomba sebelumnya. Berbekalakan pengalaman dan mental yang kuat, Laras bersama rekannya Nadia memulai berusaha berlatih untuk perlombaan yang diselanggarakan tanggal 26 Oktober 2015.
Dalam perlombaan itu, Laras benar-benar bekerja keras dari sebelumnya,walaupun kerja keras itu tidak semudah membalikan halaman buku. Laras yang waktu itu baru berangkat kemah 3 hari di Bumi Perkemahan Taman Sardi, Kudus sebagai panitia kemah untuk kelas 10, tiba-tiba diberi pesan bahwa secepatnya ia dan Nadia harus melakukan observasi di Sungai Silugonggo, Juwana untuk bahan presentasi lomba. Bingung dan khawatir sempat menghantuinya saat itu. Sepulang kemah hari minggu 20 Oktober 2015, pukul 16.00 sore, ia bersama Nadia langsung berangkat ke Sungai Silugonggo, Juwana. Didalam perjalanan cobaan benar-benar ingin menyiksanya, karena bukan orang Juwana, jelas Nadia dan Laras tidak tahu tempat sungai itu berada. Waktu semakin petang, dan laras tidak bisa menemukan tempat sungai tersebut. Perasaan takut akan  air sungai yang akan pasang, menambah kisruh hatinya saat itu, karena jika sungai pasang maka sia-sia perjalan jauh mereka.
Setelah susah payah mencari keberadaan sungai, akhirnya ia berhasil melakukan observasi, namun betapa kagetnya Laras ketika guru pembimbingnya memarahi hasil observasi yang telah dilakukan, dengan alasan bahwa, air sungai sudah pasang dan serbuk kelapa yang ditaburkan tidak dapat menyerap minyak dalam sungai karena telah hanyut. Betapa sedih dan takutnya, hati Laras saat itu, karena tidak hanya hasil observasi yang mengecawakan, guru pembimbing juga mengatakan bahwa Laras dan Nadia adalah satu-satunya anak SMAN 1 Pati yang paling buruk dalam perlombaan Karya Ilmiah Remaja ini. Sejak hujatan keras yang diberikan Bu Ida kepada mereka saat itu, Laras benar-benar dendam untuk memenangkan perlombaan. Ia berkomitmen bahwa apaun yang terjadi ia dan Nadia harus menang dan dapat membuktikan pada Bu Ida bahwa mereka bisa melakukan apa yang kakak kelas mereka lakukan untuk mengibarkan bendera SMAN 1 Pati di perlombaan tingkat nasional.
Perlombaan dimulai pukul 09.00 pagi, dengan nomor urut 8 dari 10 peserta, Laras dan Nadia maju dengan tekad yang bulat dan semangat tinggi. Hingga pada akhirnya mereka dapat memenuhi harapan Bu Ida untuk berpresentasi dengan lancar dan dapat menjawab seluruh pertanyaan  dari juri. Tidak berhenti disitu saja, keajaiban Tuhan pun ditunjukan saat nama SMAN 1 Pati diumumkan sebagai juara pertama lomba Karya Ilmiah Remaja tingkat Kabupaten. Betapa gembira dan bangganya Laras saat maju kedepan untuk menerima piala penghargaan dari juri. Saat itu juga terbayar sudah perjuangan Laras selama ini, selain itu ada harapan lain menanti untuk melanjutkan prestasi ke tingkat yang lebih tinggi yaitu tingkat provinsi. Namun di akhir ada sedikit perasaaan kecewa di hati Laras, karena ternyata lomba hanya berakhir di tingkat kabupaten dan tidak akan berlanjut ketingkat selanjutnya, hal ini karena Dinas Pendidikan tidak mempunyai biaya untuk melaksanakannya. Walaupun begitu Laras tetap memakluminya, dan percaya bahwa Tuhan akan menyiapkan rencana lebih indah untuknya di masa yang akan datang.


Contoh Menginterpretasi dan Mengaspirasi Lukisan




Astra Diantara Duka




" Astra Diantara Duka"  adalah lukisan karya salah satu siswa SMAN 1 Pati angkatan 2016. Lukisan ini termasuk dalam aliran lukis Surrelisme. Dapat dikatakan demikian karena, lukisan ini menggambarkan suasana dan bentuk yang tidak nyata dan hanya terdapat pada mimpi. Dibalik gambar yang tidak nyata, lukisan surrelisme ini bertujuan untuk menggambarkan dan menceritakan suasana hati dan gambaran kehidupan seseorang atau tokoh imajinaSang pelukis sendiri.  Hal ini dapat terlihat dari adanya gambar yang dipadukan dengan langit berbintang dan adanya warna-warna indah seperti aurora yang memenuhi langit keluar dari dalam kepala seorang gadis yang digambarkan pada lukisan. Hal ini adalah hal yang tidak nyata dalam kehidupan manusia dan merupakan imajinasi Sang pelukis belaka, namun hal tersebut akan mungkin terjadi dalam dunia mimpi.
 Lukisan ini menggambarkan bagaimana seorang gadis menemukan suatu hal indah yang menakjubkan dan melebihi kehidupan nyata di dunia, dimana hal ini hanya ditemukan dalam mimpi tidur Sang gadis.
Bukti bahwa lukisan ini adalah gambaran mimpi tidur sang gadis adalah dari baju tidur yang dikenakan sang gadis, selain itu mata sang gadis yang tidak digambarkan dalam lukisan membuat kesan bahwa sang gadis sedang terlelap. Ditambah langit malam penuh bintang yang mengelilingi sang gadis juga ikut menggambarkan bahwa Sang gadis sedang tertidur di malam hari. Saat tertidur sang gadis tersenyum, menandakan bahwa sang gadis sedang bermimpi indah. Dikatakan bahwa dunia mimpi Sang gadis lebih menyenangkan ketimbang dunia nyatanya, hal ini dapat dilihat dari goresan dan arsiran kasar di kedua sisi lukisan. Arsiran kasar ini melambangkan kehidupan Sang gadis yang rumit dan penuh masalah. namun sebaliknya, saat ia tertidur dan bermimpi, ia dapat menjelajah kemanapun, ia bisa membayangkan hal indah dan terbawa hanyut kedalamnya. Hal ini dapat terlihat dari warna-warna indah seperti aurora yang muncul keluar dari kepala Sang gadis saat ia tertidur. Lukisan langit penuh dengan gemerlapnya bintang menggambarkan betapa besar keinginannya dalam mendambakan datangnya malam, dimana  ia selalu menganggap bahwa setiap malam adalah hal yang indah dan menakjubkan yang sama indahnya dengan pemandangan langit yang penuh bintang, karena dengan datangnya malam ia bisa tertidur dan dengan tertidurlah akan datang mimpi yang indah, dimana ia akan hanyut kedalamnya dan dapat melupakan masalah pelik yang dihadapinya di dunia nyata.

Contoh Teks Editorial Terbaru

Hilangnya Pamor Mading di Mata Siswa

Pernyataan Umum :
Mading atau yang lebih dikenal dengan majalah dinding adalah hal yang tidak asing dan sangat familiar di kalangan sekolah, khususnya SMAN 1 Pati. Namun akhir-akhir ini, di kala era sudah maju dan internet menjamur dimana-mana, eksistensi mading sudah mulai ditinggalkan. Antusias warga SMAN 1 Pati terhadap majalah dinding sekolah mulai menurun bahkan cenderung tidak ada.  Padahal mading sendiri adalah salah satu jenis media komunikasi massa tulis yang paling sederhana dan memiliki banyak sekali manfaat. Yaitu banyaknya informasi dan ilmu pengetahuan yang dapat termuat. Penyajiannya yang berwujud tulisan, gambar, atau kombinasi dari keduanya, seharusnya membuat mading sebagai arena diadunya kreatifitas siswa, sekaligus sebagai media komunikasi yang menjanjikan dan menghibur. Namun, mading yang dulunya penuh dikerumuni orang yang ingin tahu, kini hanya menjadi hiasan dinding yang penuh debu dan diabaikan. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab yang sudah menjamur dikalangan warga SMAN 1 Pati, khusunya oleh para siswanya.
Argumentasi :
Letak mading yang jauh menjadi salah satu penyebab menurunnya keinginan para siswa untuk membaca setiap untaian kata dan menyerap informasi yang ada didalamnya. Mereka lebih memilih untuk membaca buku dikelas atau sekedar bergurau bersama siswa yang lainnya ketika waktu istirahat tiba, atau mungkin mereka lebih senang mengunjungi kantin untuk sekedar melepas dahaga setelah penjejalan materi yang begitu melelahkan walaupun keduanya memiliki jarak yang sama jauh. Lebih parahnya lagi mading hanya dijadikan sebagai pajangan penyambut setiap langkah kaki yang melewatinya tetapi enggan untuk berhenti sejenak menikmatinya. Hal ini sangat memprihatinkan. Pasalnya, sebagai sarana informasi dan peningkat minat baca para siswa saat ini mading hanya sebagai hiasan dinding dengan tulisan-tulisan dan gambar sebagai pelengkap.
Dengan prosentase pembaca mading yang sangat sedikit sekali, hal ini juga berpengaruh terhadap pembuatan mading yang tidak maksimal. mereka menganggap bahwa tidak akan ada yang protes atau mengkritisi persoalan mading yang monoton sehingga mading terlihat kurang begitu terurus. Akibatnya semakin banyak siswa yang mulai meninggalkan mading sebagai sarana peningkatan minat baca dan pengembangan kreatifitas. Apabila hal ini terus menerus dibiarkan maka mading akan menjadi sejarah yang hanya tinggal kenangan.
Problem lain dari mulai ditinggalkannya mading adalah adanya sosial media, atau kebanyakan orang sering disingkat dengan sebutan “sosmed”.  Pada kenyataannya hampir  95 % siswa SMAN 1 Pati kecanduan dengan sosial media ini, hal ini terbukti dari ketergantungan siswa kepada smartphone yang tidak pernah lepas setiap saat. Pergi kemana pun smartphone tidak pernah lepas dari genggaman mereka, bahkan saat jam pembelajaran disaat guru menerangkan, mereka akan memilih lebih asyik dengan smartphone mereka. Banyak yang beralasan bahwa ketidaktertarikan mereka kepada mading karena informasi, tampilan,  dan tulisan yang termuat sangat mebosankan dan kurang menarik. Mereka lebih memilih menjadi pecandu sosmed. Bukan hanya beralasan sebagai ajang pamer atau mencari kesenangan  saja, namun dalam sosmed termuat jutaan informasi baik dalam negeri maupun seluruh dunia, diamana dengan hal  itu akan memperkaya informasi dan ilmu pengetahuan bagi mereka, apalagi di sosmed semua lebih tersusun menarik dan terkesan realistis. Dalam konteks, seharusnya  pihak sekolah harus lebih memikirkan nasib dan kelanjutan mading sekolah, mading bukan hanya digunakan sebagai hiasan tembok belaka, namun seharusnya lebih memiliki manfaat yang lebih berguna bagi siswa. Sekolah harus memberikan berbagai perhatian khusus untuk merawat dan membenahi mading agar lebih menarik ketimbang sosmed. Karena dalam sosmed bukan hanya informasi positif yang termuat, namun ribuan informasi negatif terpampang nyata adanya. Pornografi dan kekerasan adalah beberapa hal yang sering sengaja maupun tidak disengaja oleh siswa untuk dibaca setiap saat. Hal inilah yang akan menjurus kepada perusakan mental dan norma dalam siswa itu sendiri. Dalam hal ini peran mading benar sangat dibutuhkan, karena dalam mading bukan hanya sekedar memuat informasi namun mental dan norma pun dijadikan cemilan bagi siswa nantinya.
Para siswa yang sejatinya memiliki bakat dan hobi menulis tidak dapat mengasah kemampuannya. Sehingga mereka tidak tahu seberapa jauh keahliannya dalam hal menulis. Matinya mading telah memutuskan ladang ekspresi bagi siswa semacam ini. Apalagi tidak adanya ekstrakurikuler jurnalis yang dapat mengampu dan mengasah bakat-bakat menulis pada siswa yang terpendam sekaligus menjadi pengurus harian dari pengisian masing. Sayang sekali apabila ada siswa yang mampu membuat artikel maupun cerita yang menarik namun tidak dapat mempublikasinya karena tidak adanya pengarahan yang baik.
Pernyataan Ulang :
Sejatinya, mading merupakan sentral informasi sekaligus ladang ekspresi bagi siswa di sekolah. Tidak seharusnya mading hanya dibiarkan menjadi papan yang berisi artikel-artikel lama bahkan papan kosong yang terpampang di berbagai tempat di sekolah.